Cesna.id, Pekanbaru – Kondisi jarak pandang di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru berangsur membaik pada Sabtu (29/8/2026). Jarak pandang di kawasan bandara tercatat berada di kisaran 4.000 hingga 5.000 meter meski kondisi kabut asap masih belum sepenuhnya membaik.
Situasi tersebut sejauh ini belum mengganggu aktivitas penerbangan. Operasional penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru tetap berlangsung secara normal dan lancar.
General Manager Bandara Internasional SSK II Pekanbaru, Achmad, menyampaikan kondisi jarak pandang tersebut berdasarkan pemantauan hingga pukul 11.55 WIB. Menurutnya, jarak pandang yang masih berada pada kisaran tersebut cukup mendukung kelancaran operasional penerbangan.
“Jarak pandang berada pada angka 4.000 hingga 5.000 meter. Aktivitas penerbangan berjalan lancar, aman, dan normal,” kata Achmad, Sabtu (29/8/2026).
Meski kondisi penerbangan masih normal, pihak pengelola bandara tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan cuaca dan perubahan jarak pandang di sekitar area bandara. Pemantauan dilakukan secara berkala dengan berkoordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Baca juga: Alasan kebakaran Kalimantan sangat sulit dipadamkan
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga keselamatan sekaligus kenyamanan para pengguna jasa penerbangan. Selain itu, kondisi cuaca terus diperhatikan untuk mengantisipasi apabila terjadi perubahan yang berpotensi memengaruhi operasional penerbangan.
“Kami terus memantau pergerakan cuaca secara berkala bersama BMKG demi memastikan keselamatan dan kenyamanan seluruh pengguna jasa penerbangan,” ujarnya.
Bandara SSK II Pekanbaru sebelumnya turut terdampak kondisi kabut asap yang menyebabkan perubahan jarak pandang. Namun, berdasarkan pemantauan hingga Sabtu siang, kondisi tersebut belum menyebabkan gangguan terhadap aktivitas penerbangan di bandara.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau masih menjadi perhatian hingga Sabtu (29/8/2026). Berdasarkan pemantauan terbaru, jumlah titik panas atau hotspot di Riau terpantau cukup tinggi. Data BMKG yang diberitakan sejumlah media lokal mencatat sekitar 265 titik panas di wilayah Riau, dengan Kabupaten Pelalawan menjadi salah satu daerah dengan jumlah hotspot terbanyak.
Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap munculnya kabut asap di Pekanbaru. Kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau tersebut masih berada dalam kategori tidak sehat. Berdasarkan data BMKG yang dikutip Riau Pos, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru pada Sabtu dini hari tercatat sekitar 84,2 µg/m³.
Meski demikian, kondisi kabut asap belum menyebabkan gangguan terhadap operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru. Pada Sabtu siang, jarak pandang di kawasan bandara telah membaik dan berada di kisaran 4.000 hingga 5.000 meter sehingga aktivitas penerbangan masih dapat berlangsung normal.
Pemerintah juga terus memperkuat upaya penanganan karhutla di Riau. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali disiapkan mulai 29 Agustus hingga 1 September 2026 untuk membantu memicu hujan di wilayah yang terdampak kebakaran. Selain OMC, upaya pemadaman di darat dan pemompaan air juga terus dilakukan.
Dengan masih tingginya aktivitas titik panas dan kondisi udara yang belum sepenuhnya pulih, perkembangan karhutla serta jarak pandang di sekitar Bandara SSK II Pekanbaru tetap menjadi perhatian. Pihak bandara bersama BMKG terus memantau perubahan cuaca dan jarak pandang guna memastikan keselamatan serta kelancaran penerbangan.