Cesna.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Setelah sempat dibuka di zona hijau, IHSG berbalik arah dan berada di level 6.581,45 pada penutupan sesi I, turun 18,49 poin atau 0,28 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan IHSG sepanjang sesi pertama cukup fluktuatif. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.629,54 setelah pembukaan, tetapi kemudian mengalami tekanan hingga mencapai posisi terendah 6.561,00 sebelum akhirnya mengakhiri sesi I di zona merah.
Tekanan terhadap IHSG tercermin dari jumlah saham yang mengalami penurunan. Berdasarkan data RTI Business, sebanyak 326 saham melemah, sementara 265 saham menguat dan 191 saham lainnya stagnan pada sesi I.
Dari 11 sektor saham, mayoritas bergerak negatif. Sektor barang baku menjadi pemberat terbesar dengan penurunan 1,79 persen, diikuti sektor perindustrian yang turun 1,21 persen dan sektor infrastruktur yang melemah 1,06 persen.
Sektor energi juga terkoreksi 0,60 persen, sedangkan sektor properti turun 0,49 persen dan barang konsumen primer melemah 0,36 persen. Sektor transportasi dan logistik menjadi sektor lain yang berada di zona merah meski hanya turun tipis 0,05 persen.
Di tengah tekanan tersebut, beberapa sektor masih mampu mencatatkan penguatan. Sektor teknologi menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan 3,83 persen, disusul sektor keuangan sebesar 0,47 persen, sektor siklikal 0,38 persen, serta sektor kesehatan yang naik 0,24 persen.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia pada sesi pertama tetap berlangsung cukup ramai. Volume perdagangan mencapai sekitar 32,97 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp9,92 triliun.
Sementara itu, frekuensi perdagangan tercatat sekitar 1,53 juta kali transaksi. Data tersebut menunjukkan bahwa pelemahan IHSG berlangsung di tengah aktivitas perdagangan yang cukup tinggi pada awal September.
Pergerakan IHSG hari ini tidak terlepas dari sentimen eksternal. Sejumlah pasar saham di kawasan Asia Pasifik juga berada di bawah tekanan pada sesi pertama, sehingga turut memengaruhi sentimen investor di pasar domestik. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah menjadi perhatian karena dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi serta prospek kebijakan moneter global.
Tekanan juga terlihat dari aksi jual investor asing pada sejumlah saham. Kondisi tersebut membuat IHSG yang sempat menguat pada awal perdagangan akhirnya kehilangan momentum dan berbalik ke zona negatif.
Baca juga: Pasar uang digunakan untuk apa?
Untuk perdagangan berikutnya, pelaku pasar masih akan mencermati kemampuan IHSG bertahan di area support. BNI Sekuritas menilai koreksi yang terjadi masih tergolong wajar dengan area support 6.540-6.570, sementara level resistance berada di kisaran 6.620-6.700.
Pergerakan IHSG selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global, harga komoditas, arus dana asing, serta kondisi ekonomi domestik. Dengan demikian, meski IHSG berada di zona merah pada sesi I, penurunan 0,28 persen masih menunjukkan koreksi yang relatif terbatas.